APA ITU MICE ?

MICE adalah singkatan dari Meeting, Incentive, Conferences , Exhibition dan Event.

MICE

Menurut Pendit (1999:25), MICE diartikan sebagai wisata konvensi, dengan batasan:  usaha jasa konvensi, perjalanan insentif, dan pameran merupakan usaha dengan kegiatan memberi jasa pelayanan bagi suatu pertemuan sekelompok orang (negarawan, usahawan, cendikiawan, dsb.) untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama.

Sedangkan menurut Kesrul (2004:3), MICE sebagai suatu kegiatan kepariwisataan yang aktifitasnya merupakan perpaduan antara leisure dan business, biasanya melibatkan sekelompok orang secara bersama-sama, rangkaian kegiatannya dalam bentuk meetings, incentive travels, conventions, congresses, conference, dan exhibition.

1. Meeting

adalah istilah bahasa inggris yang berarti rapat, pertemuan atau persidangan. Meeting merupakan suatu kegiatan yang termasuk di dalam MICE. Menurut Kesrul, “Meeting adalah suatu kegiatan kepariwisataan yang aktifitasnya merupakan perpaduan antara leisure dan business, biasanya melibatkan orang secara bersama-sama

2. Incentives

Menurut Kesrul , bahwa insentive merupakan hadiah atau penghargaan yang diberikan oleh suatu perusahaan kepada karyawan, klien, atau konsumen. Bentuknya bisa berupa uang, paket wisata, atau barang.

3. Conferences

Menurut Kesrul, Conference atau konferensi adalah suatu pertemuan yang diselenggarakan terutama mengenai bentuk-bentuk tata karena, adat atau kebiasaan yang berdasarkan mufakat umum, dua perjanjian antara negara-negara para penguasa pemerintahan atau perjanjian international mengenai topik tawanan perang dan sebagainya.

4. Exhebition

adalah ajang pertemuan yang dihadiri secara bersama-sama yang diadakan di suatu ruang pertemuan atau ruang pameran hotel, dimana sekelompok produsen atau pembeli lainnya dalam suatu pameran dengan segmentasi pasar yang berbeda.

Pemerintah telah menetapkan 10 kota utama dan 3 kota potensial tujuan MICE di Indonesia. 10 kota utama tersebut adalah Medan, Padang/ Bukit Tinggi, Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makasar dan Manado. Sedangkan tiga kota potensial adalah Palembang, Lombok dan Balikpapan. Akan tetapi pengembangan Industri MICE tidak hanya terbatas pada kota-kota tersebut melainkan semua kota di Indonsia. Peran Pemerintah daerah memang sangat penting dalam mengembangkan industri MICE. Dengan perkembangan yang agresif dalam bidang perhotelan dewasa ini, pada umumnya setiap ibukota provinsi di Indonesia mampu menyelenggarakan kegiatan MICE berskala nasional bahkan internasional.

DESA TARO

Desa Taro merupakan salah satu desa unik yang berada di Bali. Desa ini terletak di Kabupaten Tegalalang, Gianyar. Keadaan Geografisnya sangat subur dan udaranya sangat sejuk.

Desa Taro berjarak sekitar 45 kilometer dari Kuta. Di desa ini terdapat sebuah hutan desa yang dihuni oleh sekelompok lembu putih. Binatang ini dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Biasanya binatang ini menjadi pelengkap sarana upacara di Bali. Sebagai pelengkap, lembu putih tersebut dibawa ke tempat upacara dan oleh penyelenggara upacara dituntun mengelilingi areal/tempat upacara mulai dari arah timur ke selatan dan seterusnya berkeliling sebanyak tiga kali. Upacara ini disebut dengan mapepada atau purwa daksina. Setelah Upacara tersebut selesai lembu putih dikembalikan lagi ke hutan Desa Taro, setelah disuguhi berbagai sesajian. Ritual bekeliling ini pun tidak dilakukan secara asal. Seperti misalnya, hewan ini harus diajak berkeliling sebanyak tiga kali dari arah timur ke selatan, dan berakhir di timur.

Desa Taro

Selain itu, di desa ini juga terdapat atraksi wisata baru yaitu trekking gajah. Di sini wisatawan dapat menunggangi gajah berkeliling hutan melewati jalan setapak di sekitar Desa Taro. Bila mau, wisatawan dapat mengarahkan gajah yang kamu tunggangi tersebut berenang di dalam kolam. Saat trakking dengan menunggangi gajah, traveler akan diajak mengelilingi desa dan hutan taro. Untuk bisa menaiki gajah, biaya yang dibutuhkan adalah 45 dollar AS

PANTAI BLUE POINT

blue point beach

Daerah Bali Selatan memang memiliki objek wisata pantai yang indah dengan karakter tebing yang menjulang tinggi, ombak yang bagus dan pasir putih. Salah satu pantai di sini adalah Pantai Suluban berada di Desa Pecatu satu daerah lokasi dengan objek wisata Uluwatu sehingga disebut juga pantai Uluwatu. Tapi sekarang lebih familiar dengan nama Pantai Blue Point karena di kawasan ini di bangun hotel Blue Point, mungkin juga karena lidah dan ditelinga para tourist asing lebih gampang untuk diucapkan dan didengar. Ketiga nama ini mereferensikan pantai yang sama. Pantai ini terletak di kaki bukit dengan ombak yang tinggi, berpasir putih dan memiliki panorama indah dengan tebing-tebingnya menjadi tempat surganya untuk main surfing.

Objek wisata di Bali ini  memang lebih terkenal dengan sebutan Pantai Blue Point dari pada nama aslinya Pantai Suluban, nama suluban sendiri tersebut berasal dari bahasa Bali yaitu masulub yang artinya berjalan melewati sesuatu di atasnya, memang kalau kita berkunjung ke lokasi dari parkiran kita harus menuruni tebing sekitar 200 meter dan melewati terowongan (masulub), sedangkan yang di atas disebut pasuluban,  dan tebing karang yang menyerupai terowongan itulah suluban bagi setiap orang yang hendak menuju bibir pantai setelah tiba di mulut terowongan kita bisa memilih langsung ke bibir pantai ataupun naik ke atas tebing melalui tangga kayu untuk melihat pemandangan pantai dan laut biru. Jadi, sekarang kita tahu kan alasan mengapa pantai ini disebut “Suluban” Pantai ini dinamai “Pantai Suluban”  karena untuk mencapai bibir pantai ini, kita harus berjalan melewati beberapa goa batu karang.

Kalau perjalanan kita dari arah bandara Ngurah Rai yang berjarak sekitar 25 km hanya sekitar 30 menit dengan mobil, lokasinya setelah pantai padang-padang di daerah Pecatu. Pada sore hari kita bisa menyaksikan keindahan sunset, dengan pantulan warna merah kekuningan dari air laut yang jernih, sungguh panorama yang eksotis.

WISATA ROHANI DI BALI

Palasari adalah salah satu desa yang terletak di Kabupaten Negara, Bali .Jarak tempuh kurang lebih 25 menit dari pelabuhan Gilimanuk. Sepanjang perjalanan masih terdapat hutan yang membuat Palasari menjadi indah dan nyaman untuk beristirahat ataupun berwisata rohani. Banyak kegiatan Rohani yang telah di lakukan di Desa Palasari ini, baik itu berskala daerah maupun nasional. Mayoritas penduduk asli desa palasari ini menganut agama Katolik. Upacara keagamaannya pun masih menggunakan tradisi bali.  Di Desa Palasari ini terdapat 3 objek wisata yang sering dikunjungi yaitu Gereja Hati Kudus Yesus Palasari, Gua Maria Palasari dan Bendungan Palasari.
Gereja Hati Kudus Yesus Palasari

Sejarah Gereja Palasari berawal pada tahun 1940an, dimana Pater Simon Buis, SVD. bersama puluhan kepala keluarga yang berasal dari Tuka dan gumbrih, membuka sebuah hutan Pala di suatu lokasi dekat bukit, yang diberi nama Palasari (sekarang disebut Palasari Lama). Palasari lama pindah tempat ke sebelah utara sungai Sanghyang. Tempat inilah yang sekarang kita sebut Palasari.

Disini Pater simon Buis membangun desa “Model Dorf ” yaitu desa berbudaya Bali namun tetap bernuansa Katolik. Tahun 1955 bukit disebelah timur Gereja sementara diratakan dan kemudian dibangunlah sebuah Gereja. Gereja yang kokoh, perpaduan arsitecture Belanda dan Bali memberikan nuansa tersendiri bagi umat Katolik Bali. Gereja Palasari ini diresmikan oleh Pastor Simon Bois pada 15 September 1940. Pastor inilah yang mengenalkan agama Katolik pertama kalinya di daerah Bali barat (Palasari).

Arsitektur Gereja Palasari sangat kental akan unsur Balinya. Keunikan bangunan Gereja Palasari adalah bangunan Gereja inkulturatif yang memadukan arsitektur ghotik dengan Bali. Walaupun Gereja Palasari ini memiliki usia yang sangat tua namun kondisi dan keadaan dalam gedung masih sangat terlihat modern. Pada pintu masuk halaman terdapat seperti gapura yang pada umumnya terdapat di pura – pura (tempat ibadah umat Hindu) atau di pintu masuk rumah – rumah masyarakat Bali pada umumnya. Halaman Gereja Palasari yang banyak ditumbuhi pohon cemara dengan beberapa pembatas halaman gedung Gereja yang terdapat sedikit ukir ukiran Bali.

Di dalam Gereja, setelah pintu masuk, Anda bisa melihat foto – foto lawas yang menunjukkan sejarah pembangunan Gereja Palasari seperti foto lawas romo – romo Eropa yang memulai karir misi di daerah Palasari dan juga memulai pembangunan Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Palasari. Bagian dalam Gereja mulai dari patung, tabernakel, altar, salib, 14 ukiran jalan salib, semuanya tersentuh budaya Bali. Seperti terlihat pada patung Bunda Maria dan Yesus di sisi kanan dan kiri altar terdapat payung (tedung) yang kebanyakan dipakai oleh orang Bali atau adat Bali.

gereja hati kudus PALASARI

Gua Maria Palasari

Gua Maria ‘ Palinggih Ida Kaniaka Maria’ Palasari dibangun pertama kali pada tahun 1962 di Banjar Palasari, Desa Ekasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali yang lokasinya pada saat itu bersebelahan dengan Kepala Susteran OSF Palasari. Karena beberapa pertimbangan pada tanggal 13 Desember 1983 dipindahkan ke lokasi Monumen Pastor Simon Buis.

Palinggih Ida Kaniaka Maria dalam bahasa Indonesia yang berarti tempat suci bagi Bunda Maria ini diberkati oleh Bapa Uskup Denpasar Mgr. Vitalis Djebarus, SVD ( alm ), lebih lanjut Bapa Uskup Mgr. DR. Benyamin Yosep Bria, PR (alm). Semenjak tahun 2000, Palinggih Ida Kaniaka Maria Palasari banyak dikunjungi peziarah local, domestic, dan mancanegara. Maka Pastor Paroki pada saat itu yaitu Rm. Laurensius  Maryono. Pr, merasa terpanggil untuk mengadakan renovasi atau pemugaran Gua Maria, maka sekarang  Palinggih Ida Kaniaka Maria sedang dalam masa renovasi atau pemugaran Gua Maria dan sedang ditambahkan areal khusus stasi Jalan Salib yang bisa digunakan oleh para peziarah yang ingin berdoa. Sepanjang Sepanjang perjalan menuju tempat ziarah Gua Maria ‘Palinggih Ida Kaniaka Maria’ Palasari, anda akan menikmati pemandangan yang nyaman dan asri.

Gua Maria Palasari

Bendungan Palasari

Pembangunan Bendungan palasari dimulai sekitar tahun 1986 dengan total luasnya mencapai 100 hektar. Di bendungan ini, kini banyak dijumpai berbagai jenis ikan seperti ikan mujair, ikan nila, gurame, lele, kaper, udang dan masih banyak lagi jenis ikan air tawar. Selain berfungsi sebagai penampung air hujan dan pengendali banjir, Bendungan Palasari juga dimanfaatkan untuk menarik para wisatawan atau dengan kata lain sebagai tempat wisata alternatif di Kawasan Jembrana. Para wisatawan yang berkunjung atau berwisata ke Bendungan ini tidak hanya sekedar menikmati pemandangan saja, namun bagi para wisatawan yang mempunyai hobi motor cross dan off road dapat menyalurkan hobinya di daerah sekitar Bendungan, karena di area Bendungan ini terdapat area motor cross dan off road. Disamping itu, Anda juga bisa menyewa sampan untuk mengelilingi keseluruhan perairan Bendungan Palasari ini.

Bendungan Palasari

KEGIATAN MICE SEBAGAI INDUSTRI BARU PARIWISATA MASA KINI

Perkembangan bisnis MICE yang merupakan bagian dari industri pariwisata masa kini dan telah memberikan warna yang beragam terhadap jenis kegiatan pariwisata yang identik dengan pemberian pelayan/services. MICE dan bisnis pariwisata merupakan bisnis dengan high-quality dan high-yield, yang memberikan kontribusi tinggi secara ekonomi terlebih bagi negara berkembang. High Quality berarti kualitas pelayanan yang diberikan mampu memberikan kepuasan kepada setiap peserta, high yield berarti kegiatan wisata konvensi mampu memberikan keuntungan yang besar pada penyelenggara wisata konvesi. Berkembangnya industri MICE atau wisata konvensi sebagai industri baru yang bisa menguntungkan bagi banyak pihak, karena industri MICE ini merupakan industri yang kompleks dan melibatkan banyak pihak.Alasan inilah yang menjadikan tingkat pertumbuhan para pengusaha penyelenggara MICE bermunculan, sehingga tidak dipungkiri industri MICE sebagai industri masa kini yang banyak diminati oleh para pelaku bisnis pariwisata.

Kegiatan bisnis MICE telah membuka lapangan kerja baru, tidak hanya menciptakan tenaga kerja musiman saja, tetapi juga telah menciptakan  pekerjaan yang tetap bagi banyak masyarakat yang memiliki kemampuan tidak berbeda dengan bisnis pariwisata yang banyak diciptakan di negara-negara sedang berkembang

Kegiatan Industri MICE sebagai industri baru masa kini menunjukan bahwa MICE sebagi salah satu sektor dalam bisnis pariwisata, karena kegiatan MICE merupakan kegiatan bisnis wisata yang tujuan utama dari para delegasi atau peserta kegiatan MICE adalah melakukan perjalanan dan menghadiri suatu kegiatan atau event yang berhubungan dengan bisnisnya sambil menikmati kegiatan wisata secara bersama-sama.

TIPS BERWISATA

Berkunjung ke suatu tempat, pastilah memerlukan persiapan. Berikut sejumlah tips berwisata.

1. Cari Informasi sebanyak-banyak mungkin tentang tempat wisata
2. Jangan ragu untuk bertanya-tanya dan berkorepondensi
3. Periksa Informasi ketersediaan akomodasi dan transportasi
4. Tentukan berapa lama anda akan berlibur
5. Bawa barang secukupnya
6. Hitung perkiraan biaya
7. Jaga kesehatan
8. Upayakan untuk selalu mencoba hal yang menjadi ciri khas kawasan setempat
9. Junjung tinggi tradisi setempat
10. Jaga dan turut lestarikan alam

DESA SEBATU SEBAGAI “GENAH MELUKAT”

Gianyar adalah salah satu Kabupaten yang banyak memiliki tempat-tempat suci atau seperti halnya Pura untu membersihkan diri bagi masyarakat bali yang khususnya adalah umat Hindu. Adapun lokasinya yg terletak di Banjar Sebatu, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang , kabupaten Gianyar.  kira-kira 40 Km dari Kota Denpasar atau 21 Km dari Kota Gianyar. Tempat ini dapat dikunjungi dengan mudah melalui desa Peliatan atau melalui Tampaksiring, melalui hamparan sawah yang indah, diantara desa-desa yang mempunyai seni kerajinan yang baik, terutama karya seni pahat. Ada salah satu tradisi di bali yang sampai sekarang belum ditinggalkan oleh masyarakatnya, yaitu membersihkan diri memakai air suci atau lebih dikenal dengan istilah “melukat”. Ada beberapa tempat suci yang mungkin sudah pernah anda kunjungi untuk melukat, seperti Tirta Empul Tampaksiring. Akan tetapi sama halnya dengan tempat pelukatan di Tampak Siring, ada salah satu tempat untuk melukat yang tempatnya di Desa Sebatu Tegallalang, Gianyar, Bali.

Hal yang unik dari tempat ini adalah ketika anda melukat, air dari badan anda akan berwarna buih seperti air sabun ketika habis mandi. Penduduk setempat meyakini bahwa anda memiliki kotoran atau penyakit baik medis maupun non medis. Tempat melukat ini bukan tempat wisata sebetulnya, karena tempat pemandian melukat ini masih terkesan keramat. Jarang sekali ada pengunjung yang datang kalau tidak untuk melukat di tempat ini. Lain halnya dengan Pura Tirta Empul ataupun Pura Gunung kawi Sebatu kecuali di hari hari tertentu seperti purnama kajeng kliwon ( penanggalan Bali ). Menurut penjaga tempat melukat tersebut di katakan, jika di hari tersebut tempat ini bisa lebih ramai daripada pura Kawi Sebatu ataupun Tirta Empul. Yang buat penasaran adalah tentang berubahnya warna air jika seseorang melukat atau mandi di bawah air terjun kecil tersebut.

Bilamana dalam diri orang yang mandi tersebut terdapat sesuatu hal yang negatif maka air akan berubah keruh keputihan. Tergantung seberapa besar hal negatif yang ada dalam diri seseorang tersebut. Hal negatif ini biasanya berupa perbuatan magic seseorang atau perilaku orang tersebut. Sebelum seseorang melakukan melukat maka di haruskan berdoa terlebih dahulu untuk mohon berkat dalam melukat nantinya di Pura kecil persis di atasnya pemandian. Baru kemudian di perkenankan melukat. Banyak dari pengunjung juga membawa uang kepeng untuk di buang di sana, membuang hal negatif. Airnya cukup dingin dan menyegarkan melebihi pemandian di Pura Sebatu atau Tirta Empul. Orang di luar agama hindu pun boleh ikut melukat asal mengenakan kain dan sabuk seperti halnya orang-orang  yang melukat di sana. Para pengunjung yang sudah selesai melakukan melukat akan merasakan segar dan ringan tanpa beban. Seolah-olah lepas dari semua permasalahan.

Adapun sarana-sarana untuk penangkilan atau melukat disini yaitu:

  1. Daksina Pejati, terutama bagi yang baru pertama kali melukat di tempat ini.
  2. Pejati yang dibawa hendaknya berisi pisang atau biu kayu dan berisi bunga tunjung warna bebas.
  3. Sarana muspa menggunakan kewangen dengan menggunakan bunga jempiring, sekar tunjung biru dan pis bolong (uang bolong) 11 kepeng.
  4. Pakaian yang dipakai untuk nangkil yaitu pakaian adat bali, dimana pada saat melukat boleh hanya memakai kain kamen dan disarankan untuk tidak memakai perhiasan.

Tata cara melukat adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan persembahyangan di pelinggih Pura Dalem Pingit dan Kusti yang  letaknya agak diatas dari tempat pesiraman, dengan menggunakan sarana kewangen. Biasanya dipimpin oleh pemangku pada saat hari keagamaan seperti purnama, kajeng kliwon, dsb.
  2. Usai sembahyang, kewangen yang ada  uang kepengnya dibawa kelokasi melukat. Caranya kewangen di letakan di depan jidat atau ubun ubun seperti saat kita  muspa, dengan membasahi kepala dan ubun ubun, Setelah kepala basah lepas kewangan agar hanyut bersama air.
  3. Setelah selesai melukat, pemedek sembahyang sekali lagi di pelingih yang ada di dekat batu, sekalian nunas tirta dan bija.

Disamping itu menurut pemangku setempat, Wanita yang lagi dapet tamu bulanan ( cuntaka ) dan anak kecil yang  belum ketus gigi tidak diperbolehkan ikut melukat di tempat ini karena akan menangis terus menerus. Jangan kaget bila pada saat melukat kita menjumpai ada penangkil yang nangklang-nengkleng seperti tarian rangda dan mengeluarkan suara suara seram atau aneh, bahkan banyak pula yang kerauhan, dan banyak lagi keanehan dan aura magis yang lainnya. Di areal paling ujung bagi pemedek yang sudah selesai melukat telah  disiapkan tempat untuk ganti pakaian, kemudian pulang menyusuri jalan setapak yang penuh tanjakan dengan anak tangga yang sedikit licin namun tetap mengasikkan karena udaranya yang segar dengan diiringi kicauan burung mendayu.

DESA TRADISIONAL PENGLIPURAN BANGLI

Bangliad

Desa Penglipuran

alah salah satu Kabupaten yang memiliki cuaca yang sangat sejuk , asri , indah yang sangat di minati oleh banyak wisatawan untuk di kunjungi serta untuk berlibur. Karena keindahan alam sekitar yang dekat dengan danau dan pegunungan itu, banyak sekali menarik minta para pengunjung untuk klebih mengetahui tentang kabupaten ini . tak hanya itu, di Kabupaten ini banyak memiliki keunikan dari masing-masing desa, memiliki alam yang sangat khas, unik dan cantik, serta masyarakat yang masih sangat polos tanpa mendapatkan pengaruh jaman dari luar.  Salah satunya adalah Desa Penglipuran yang  merupakan sebuah objek wisata di Bali yang terkenal dengan budaya, keteraturan dan arsitekturnya yang khas. Desa adat Penglipuran berada di bawah administrasi Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, yang berjarak 45 km dari kota Denpasar. Letaknya berada di daerah dataran tinggi di sekitar kaki Gunung Batur. Desa Penglipuran ini adalah desa yang memiliki luas wilayah sekitar 1,12 Ha.

Keindahan alam yang dipadukan dengan unsur budaya lokal serta manajemen dari pariwisata yang baik menjadikan Bali memperoleh banyak penghargaan di bidang pariwisata. Salah satunya juga Desa Penglipuran adalah desa yang pernah mendapat penghargaan Kalpataru ini tampak begitu asri. Keistimewaan desa ini adalah memiliki tatanan struktur desa tradisional yang teratur dengan banyak ruang terbuka dan taman-taman yang indah sehingga membuat pengunjung merasakan nuansa Bali seperti dahulu kala. Dimana di desa ini penataan fisik dan struktur desa tersebut tidak lepas dari budaya yang dipegang teguh oleh masyarakat Adat Penglipuran dan budaya masyarakatnya juga sudah berlaku turun temurun. Tidaklah heran apabila Desa Penglipuran menjadi salah satu desa di Bali yang mendapatkan penghargaan Kalpataru sebagai desa wisata yang sangat asri dan indah untuk terus di lestarikan. Selain itu, Desa Penglipuran ini memiliki keunggulan lainnya dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Bali yakni keseragaman bagian depan rumah dari ujung utama desa sampai bagian hilir desa. Di setiap rumah sepanjang desa ini tidak ada yang memiliki perbedaan, semua bagian depan rumah hingga arsitekturnya sama tanpa adanya perbedaan sedikitpun.

Tak hanya itu saja, meskipun desa ini merupakan desa adat yang masih memegang teguh tradisi adat Bali yang biasanya masyarakat sekitarnya masih primitif dan buta teknologi. Tetapi anak-anak muda desa ini hampir semuanya mengenyam pendidikan. Dan bahkan diantaranya yang melanjutkan hingga jenjang perguruan tinggi. Walaupun begitu, anak-anak tersebut tidak malu dan bahkan mereka tetap bangga untuk melestarikan budayanya terutama desa mereka yakni Desa Penglipuran. Nama penglipuaran sendiri sebenarnya memiliki beberapa arti. Ada yang mengatakan bahwa Penglipuran itu berasal dari kata dasar “eling” yang biasanya diartikan dengan ingat, serta pura itu artinya “tanah leluhur”. Jadi bias diartikan bahwa Penglipuran tersebut artinya sebagai “mengingat tanah leluhur” atau “penglipur yang artinya penghibur”.

TIRTA GANGGA

Tirta gangga dibangun pada tahun 1948 oleh Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Taman air ini dikonstruksi dalam arsitektur yang sangat unik dengan gaya Bali dan Cina. Tirta gangga terletak di Desa Ababi, Kecamatan Abang, sekitar 83 km dari Denpasar dan 6 km dari Amlapura ke utara. Fasilitas yang tersedia di daerah ini antara lain hotel-hotel kecil, restoran-restoran kecil, dan warung-warung serta areal parkir yang luas. Tirta gangga terletak pada daerah 1,2 hektar yang terdiri atas tiga kompleks. Kompleks pertama yakni pada bagian paling bawah dapat ditemukan dua kolam teratai dan air mancur. Kompleks kedua adalah bagian tengah dimana dapat ditemukan kolam renang; sementara, pada bagian ketiga, yakni kompleks ketiga, kita dapat menemukan tempat peristirahatan raja. Sebelum konstruksi Tirta gangga, terdapat sumber mata air besar di daerah ini; sehingga masyarakat setempat menyebut daerah ini “embukan” yang artinya mata air. Mata air itu kemudian difungsikan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan air dan juga sebagai “pemurnian” dari para Dewa. Untuk tujuan ini, mata air ini dianggap suci. Aspek religius dalam mengkonstruksi Tirta gangga untuk rumah istirahat raja dan juga untuk fungsi umum layak untuk disaksikan

Pura Batukaru, Surga Bagi Jiwa di Bali

Image

Pura Batukaru

PURA Luhur Batukaru adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan sebagai Dewa Mahadewa. Karena fungsinya untuk memuja Tuhan sebagai Dewa yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan mempergunakan air secara benar, maka di Pura Luhur Batukaru ini disebut sebagai pemujaan Tuhan sebagai Ratu Hyang Tumuwuh — sebutan Tuhan sebagai yang menumbuhkan.

Tuhan sebagai sumber yang mempertemukan air dengan tanah sehingga muncullah kekuatan untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan itu akan tumbuh subur dengan daunnya yang hijau mengandung klorofil sebagai zat yang menyelamatkan hidup. Pemujaan Tuhan di Pura Luhur Batukaru hendaknya dijadikan media untuk membangun daya spiritual membangun semangat hidup untuk secara sungguh-sungguh menjaga kesuburan tanah dan sumber-sumber air.

Dengan tanah yang terjaga kesuburannya dan sumber-sumber air terlindungi, maka tumbuh-tumbuhan akan subur. Tumbuh-tumbuhan yang subur akan berlanjut terus apabila udara tidak tercemar oleh emisi CO2. Udara yang tercemar akan dapat menimbulkan hujan asam yang merusak pucuk tumbuhan-tumbuhan. Jadi pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Tumuwuh memiliki makna yang dalam bagi kehidupan umat manusia di bumi ini. Adanya konferensi tentang merubahan cuaca yang diikuti oleh 187 negara di Nusa Dua patut dijadikan momentum untuk mengingatkan diri kita tentang nilai yang terkandung di balik Pemujaan Sang Hyang Tumuwuh di Pura Luhur Batukaru.

Pura Luhur Batukaru terletak di Desa Wongaya Gede Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan. Lokasi pura ini terletak di bagian barat Pulau Bali di lereng selatan Gunung Batukaru. Kemungkinan besar nama pura ini diambil dari nama Gunung Batukaru ini. Bagi mereka yang ingin sembahyang ke Pura Luhur Batukaru sangat diharapkan terlebih dahulu sembahyang di Pura Jero Taksu. Pura Jero Taksu ini memang letaknya agak jauh dari Pura Luhur Batukaru.

Tujuan persembahyangan di Pura Jero Taksu itu adalah sebagai permakluman agar sembahyang di Pura Luhur Batukaru mendapatkan keberhasilan. Pura Taksu ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Pura Luhur Batukaru. Setelah itu barulah menuju pancuran yang letaknya di bagian tenggara dari pura utama namun tetap berada dalam areal Pura Luhur Batukaru.

Air pancuran ini adalah untuk menyucikan diri dengan jalan berkumur, cuci muka dan cuci kaki di pancuran tersebut terus dilanjutkan sembahyang di Pelinggih Pura Pancuran tersebut sebagai tanda penyucian sakala dan niskala atau lahir batin sebagai syarat utama agar pemujaan dapat dilakukan dengan kesucian jasmani dan rohani.

Pura Luhur Batukaru ini juga termasuk Pura Sad Kahyangan yang disebut dalam Lontar Kusuma Dewa. Pura Luhur Batukaru sudah ada pada abad ke-11 Masehi. Sezaman dengan Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhuhur, Pura Guwa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, dan Pura Pusering Jagat. Sebagai penggagas berdirinya Sad Kahyangan adalah Mpu Kuturan.

Banyak pandangan para ahli bahwa Mpu Kuturan mendirikan Sad Kahyangan Jagat untuk memotivasi umat menjaga keseimbangan eksistensi Sad Kerti yaitu Atma Kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti, Jagat Kerti dan Jana Kerti.

Pura Luhur Batukaru kemungkinan sebelumnya sudah dijadikan tempat pemujaan dan tempat bertapa sebagai media Atma Kerti oleh tokoh-tokoh spiritual di daerah Tabanan dan Bali pada umumnya. Pandangan tersebut didasarkan pada adanya penemuan sumber-sumber air dan dengan berbagai jenis arca Pancuran. Dari adanya sumber-sumber mata air ini dapat disimpulkan bahwa daerah ini pernah dijadikan tempat untuk bertapa bagi para Wanaprastin untuk menguatkan hidupnya menjaga Sad Kerti tersebut.

Setelah pendirian Pura Luhur Batukaru pada abad ke-11 tersebut kita tidak mendapat keterangan dengan jelas bagaimana keberadaan pura tersebut. Baru pada tahun 1605 Masehi ada keterangan dari kitab Babad Buleleng. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Pura Luhur Batukaru pada tahun tersebut di atas dirusak oleh Raja Buleleng yang bernama Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.

Dalam kitab babad tersebut diceritakan bahwa Kerajaan Buleleng sudah sangat aman tidak ada lagi musuh yang berani menyerangnya. Sang Raja ingin memperluas kerajaan lalu mengadakan perluasan ke Tabanan. Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dalam perjalanan bertemu dengan daerah Batukaru yang merupakan daerah Kerajaan Tabanan. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti bersama prajuritnya lalu merusak Pura Luhur Batukaru. Pura tersebut diobrak-abriknya.

Di luar perhitungan Ki Panji Sakti tiba-tiba datang tawon banyak sekali galak menyengat entah dari mana asalnya. Ki Panji Sakti beserta prajuritnya diserang habis-habisan oleh tawon yang galak dan berbisa itu. Ki Panji Sakti lari terbirit-birit dan mundur teratur dan membatalkan niatnya untuk menyerang kerajaan Tabanan. Karena pura tersebut dirusak oleh Ki Panji Sakti maka bangunan pelinggih rusak total. Tinggal onggokan berupa puing-puing saja.

Baru pada tahun 1959 Pura Luhur Batukaru mendapat perbaikan sehingga bentuknya seperti sekarang ini. Pada tahun 1977 secara bertahap barulah ada perhatian dari pemerintah daerah berupa bantuan. Sampai sekarang Pura Luhur Batukaru sudah semakin baik keadaannya.