DESA SEBATU SEBAGAI “GENAH MELUKAT”

Gianyar adalah salah satu Kabupaten yang banyak memiliki tempat-tempat suci atau seperti halnya Pura untu membersihkan diri bagi masyarakat bali yang khususnya adalah umat Hindu. Adapun lokasinya yg terletak di Banjar Sebatu, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang , kabupaten Gianyar.  kira-kira 40 Km dari Kota Denpasar atau 21 Km dari Kota Gianyar. Tempat ini dapat dikunjungi dengan mudah melalui desa Peliatan atau melalui Tampaksiring, melalui hamparan sawah yang indah, diantara desa-desa yang mempunyai seni kerajinan yang baik, terutama karya seni pahat. Ada salah satu tradisi di bali yang sampai sekarang belum ditinggalkan oleh masyarakatnya, yaitu membersihkan diri memakai air suci atau lebih dikenal dengan istilah “melukat”. Ada beberapa tempat suci yang mungkin sudah pernah anda kunjungi untuk melukat, seperti Tirta Empul Tampaksiring. Akan tetapi sama halnya dengan tempat pelukatan di Tampak Siring, ada salah satu tempat untuk melukat yang tempatnya di Desa Sebatu Tegallalang, Gianyar, Bali.

Hal yang unik dari tempat ini adalah ketika anda melukat, air dari badan anda akan berwarna buih seperti air sabun ketika habis mandi. Penduduk setempat meyakini bahwa anda memiliki kotoran atau penyakit baik medis maupun non medis. Tempat melukat ini bukan tempat wisata sebetulnya, karena tempat pemandian melukat ini masih terkesan keramat. Jarang sekali ada pengunjung yang datang kalau tidak untuk melukat di tempat ini. Lain halnya dengan Pura Tirta Empul ataupun Pura Gunung kawi Sebatu kecuali di hari hari tertentu seperti purnama kajeng kliwon ( penanggalan Bali ). Menurut penjaga tempat melukat tersebut di katakan, jika di hari tersebut tempat ini bisa lebih ramai daripada pura Kawi Sebatu ataupun Tirta Empul. Yang buat penasaran adalah tentang berubahnya warna air jika seseorang melukat atau mandi di bawah air terjun kecil tersebut.

Bilamana dalam diri orang yang mandi tersebut terdapat sesuatu hal yang negatif maka air akan berubah keruh keputihan. Tergantung seberapa besar hal negatif yang ada dalam diri seseorang tersebut. Hal negatif ini biasanya berupa perbuatan magic seseorang atau perilaku orang tersebut. Sebelum seseorang melakukan melukat maka di haruskan berdoa terlebih dahulu untuk mohon berkat dalam melukat nantinya di Pura kecil persis di atasnya pemandian. Baru kemudian di perkenankan melukat. Banyak dari pengunjung juga membawa uang kepeng untuk di buang di sana, membuang hal negatif. Airnya cukup dingin dan menyegarkan melebihi pemandian di Pura Sebatu atau Tirta Empul. Orang di luar agama hindu pun boleh ikut melukat asal mengenakan kain dan sabuk seperti halnya orang-orang  yang melukat di sana. Para pengunjung yang sudah selesai melakukan melukat akan merasakan segar dan ringan tanpa beban. Seolah-olah lepas dari semua permasalahan.

Adapun sarana-sarana untuk penangkilan atau melukat disini yaitu:

  1. Daksina Pejati, terutama bagi yang baru pertama kali melukat di tempat ini.
  2. Pejati yang dibawa hendaknya berisi pisang atau biu kayu dan berisi bunga tunjung warna bebas.
  3. Sarana muspa menggunakan kewangen dengan menggunakan bunga jempiring, sekar tunjung biru dan pis bolong (uang bolong) 11 kepeng.
  4. Pakaian yang dipakai untuk nangkil yaitu pakaian adat bali, dimana pada saat melukat boleh hanya memakai kain kamen dan disarankan untuk tidak memakai perhiasan.

Tata cara melukat adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan persembahyangan di pelinggih Pura Dalem Pingit dan Kusti yang  letaknya agak diatas dari tempat pesiraman, dengan menggunakan sarana kewangen. Biasanya dipimpin oleh pemangku pada saat hari keagamaan seperti purnama, kajeng kliwon, dsb.
  2. Usai sembahyang, kewangen yang ada  uang kepengnya dibawa kelokasi melukat. Caranya kewangen di letakan di depan jidat atau ubun ubun seperti saat kita  muspa, dengan membasahi kepala dan ubun ubun, Setelah kepala basah lepas kewangan agar hanyut bersama air.
  3. Setelah selesai melukat, pemedek sembahyang sekali lagi di pelingih yang ada di dekat batu, sekalian nunas tirta dan bija.

Disamping itu menurut pemangku setempat, Wanita yang lagi dapet tamu bulanan ( cuntaka ) dan anak kecil yang  belum ketus gigi tidak diperbolehkan ikut melukat di tempat ini karena akan menangis terus menerus. Jangan kaget bila pada saat melukat kita menjumpai ada penangkil yang nangklang-nengkleng seperti tarian rangda dan mengeluarkan suara suara seram atau aneh, bahkan banyak pula yang kerauhan, dan banyak lagi keanehan dan aura magis yang lainnya. Di areal paling ujung bagi pemedek yang sudah selesai melukat telah  disiapkan tempat untuk ganti pakaian, kemudian pulang menyusuri jalan setapak yang penuh tanjakan dengan anak tangga yang sedikit licin namun tetap mengasikkan karena udaranya yang segar dengan diiringi kicauan burung mendayu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: